Film Di Bawah Langit Gubugklakah: Potret Budaya, Sejarah, dan Dinamika Masyarakat Desa
Di bawah hamparan langit lereng Bromo, Desa Gubugklakah menyimpan cerita yang hidup dalam tradisi, keyakinan, alam, dan keseharian masyarakatnya. Kekayaan tersebut menjadi ruh utama dalam film dokumenter berjudul “Di Bawah Langit Gubugklakah”, sebuah karya visual yang merekam potret kehidupan desa secara utuh dan bermakna.
Film dokumenter ini menghadirkan Gubugklakah bukan sekadar sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang budaya yang terus bertumbuh melalui warisan adat dan kearifan lokal. Pada bidang budaya dan adat, dokumenter ini menampilkan pembentukan lembaga adat yang dipimpin oleh Pak Suwito, peran sentral dukun adat Romo Dukun Madeli dalam pelaksanaan upacara adat, serta simbol identitas budaya seperti udeng dan kamus yang masih dijaga oleh generasi muda. Kesenian lokal pun turut menjadi medium ekspresi budaya yang memperkuat identitas masyarakat Tengger di Gubugklakah.
Dimensi religius masyarakat Gubugklakah juga terekam kuat dalam film ini. Aktivitas keagamaan seperti pengajaran TPQ, rutinan masyarakat, keterlibatan organisasi IPNU dan IPPNU, hingga peringatan hari besar keagamaan menjadi gambaran harmonis kehidupan beragama yang berjalan berdampingan dengan adat istiadat. Nilai-nilai spiritual tersebut tidak hanya menjadi praktik ibadah, tetapi juga perekat sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Sektor pertanian ditampilkan sebagai denyut nadi perekonomian desa. Melalui narasi visual yang sederhana namun kuat, film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Gubugklakah menggantungkan hidup pada alam, mengolah lahan dengan pengetahuan turun-temurun, serta menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Pada bidang pariwisata, film Di Bawah Langit Gubugklakah mengangkat potensi desa yang terus berkembang, mulai dari kegiatan open trip Bromo, jalur hiking alam, keberadaan Café Lawang Sari, hingga wisata edukasi pertanian. Seluruh potensi tersebut disajikan sebagai peluang pengembangan desa yang tetap berpijak pada prinsip keberlanjutan dan kearifan lokal.
Aspek literasi dan pendidikan turut menjadi perhatian dalam dokumenter ini. Kegiatan bimbingan belajar, perpustakaan rakyat, dan pustaka keliling menunjukkan upaya masyarakat dan mahasiswa dalam menumbuhkan budaya belajar serta meningkatkan akses pengetahuan bagi generasi muda desa.
Sebagai fondasi dari seluruh narasi tersebut, film ini juga menggali sejarah Desa Gubugklakah dan proses akulturasi Suku Tengger yang membentuk karakter sosial dan budaya masyarakat hingga hari ini. Sejarah tidak hanya diposisikan sebagai masa lalu, tetapi sebagai identitas yang terus hidup dan diwariskan.
Melalui film dokumenter Di Bawah Langit Gubugklakah, penonton diajak untuk memahami bahwa desa bukanlah ruang yang statis, melainkan entitas dinamis yang kaya akan nilai, perjuangan, dan harapan. Film ini menjadi bentuk dokumentasi, refleksi, sekaligus upaya merawat cerita-cerita lokal agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Komentar
Posting Komentar