Adat Bari'an Suku Tengger, Tradisi Syukuran dan Doa Bersama untuk Menjaga Keselamatan dan Harmoni Alam
Masyarakat Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, terus melestarikan adat Barikan sebagai tradisi leluhur yang dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali. Adat ini merupakan bentuk syukuran dan doa bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan, menolak bala, serta menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Bagi masyarakat Suku Tengger, Barikan tidak sekadar ritual adat, melainkan juga sarana memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan sosial.
Prosesi adat Barikan dipimpin oleh dukun adat Tengger yang memiliki peran sentral dalam pelaksanaan ritual. Dukun adat bertindak sebagai pemimpin doa sekaligus penjaga nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di punden desa, yang diyakini sebagai tempat sakral serta memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Desa Gubugklakah. Pemilihan lokasi ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan penjaga desa.
Dalam pelaksanaannya, adat Barikan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dari berbagai lapisan usia dan latar belakang. Warga secara gotong royong mempersiapkan perlengkapan ritual, termasuk sesajen atau ugo rampe yang menjadi bagian penting dari prosesi adat. Sesajen tersebut terdiri atas berbagai hasil bumi, makanan tradisional, serta perlengkapan simbolik lainnya yang memiliki makna mendalam sebagai wujud rasa syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan yang telah diterima masyarakat.
Keunikan adat Barikan terletak pada perpaduan unsur kepercayaan lokal dengan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat setempat. Unsur animisme dan dinamisme berpadu secara harmonis dengan ajaran Hindu dan Islam, mencerminkan kearifan lokal masyarakat Tengger dalam menjaga toleransi dan keharmonisan dalam keberagaman. Doa-doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan untuk kepentingan individu, tetapi juga untuk keselamatan seluruh warga desa serta kelestarian alam sekitar.
Setelah rangkaian doa dan ritual selesai dilaksanakan, kegiatan adat Barikan dilanjutkan dengan makan bersama. Tradisi ini menjadi simbol persatuan dan solidaritas antarwarga, sekaligus mempererat hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Makan bersama juga mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih terjaga kuat di tengah arus modernisasi.
Melalui pelaksanaan adat Barikan secara berkelanjutan, masyarakat Desa Gubugklakah menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Tradisi ini tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Tengger, tetapi juga berperan sebagai sarana pendidikan nilai-nilai luhur bagi generasi muda agar tetap menghormati tradisi, menjaga keharmonisan sosial, serta hidup selaras dengan alam.

Komentar
Posting Komentar