Lomba Mewarnai Bertema Anti Bullying sebagai Media Pendidikan Karakter dan Etika Pertemanan di MI KH Hasyim Asy’ari Gubugklakah
Berangkat dari pengalaman mengajar dan berinteraksi langsung dengan murid, Kelompok 41 KKM UIN Malang melihat bahwa isu perundungan bukan sekadar materi yang selesai disampaikan di kelas, tetapi nilai yang perlu terus dihidupkan dalam keseharian anak. Setelah pelaksanaan pendidikan karakter anti bullying di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah pada 21–22 Januari 2026, kelompok ini melanjutkannya dalam bentuk yang lebih visual dan membekas melalui lomba mewarnai bertema anti bullying yang diselenggarakan pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini dipilih karena gambar yang dipandang lama, diwarnai dengan kesungguhan, dan disertai pesan moral sederhana diyakini lebih mudah diingat dan dipahami oleh anak usia MI.
Sejak pagi, suasana sekolah terasa berbeda. Murid kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti lomba ini dengan antusias, masing-masing mendapatkan gambar dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan jenjang kelasnya. Semakin tinggi kelas, semakin kompleks pula detail gambar yang harus diwarnai. Namun benang merahnya sama: pesan anti bullying yang dekat dengan dunia anak, seperti “Stop Bullying”, “Mari Kita Saling Menyayangi”, “Jangan Biarkan Bullying Menjadi Kebiasaan”, “Teman Baik Tidak Ada Lawan”, hingga “Anti Bullying, Kita Bersahabat”. Visual yang disajikan pun menggambarkan etika pertemanan tanpa kekerasan anak-anak yang saling bersalaman, rukun, saling membantu, dan menolong satu sama lain sehingga nilai yang ingin ditanamkan tidak hanya dibaca, tetapi juga dilihat dan dirasakan.
Secara sederhana, kegiatan ini berangkat dari landasan pendidikan karakter yang menekankan pembiasaan sikap baik melalui pengalaman nyata. Islam sendiri menegaskan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain. Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik” (QS. Al-Isra: 53). Rasulullah SAW juga bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Nilai-nilai inilah yang diterjemahkan ke dalam bahasa anak melalui warna, gambar, dan suasana lomba yang menyenangkan.
Selain menanamkan etika pertemanan yang baik, lomba mewarnai ini juga menjadi sarana melatih jiwa kompetitif yang sehat. Sebagai bentuk apresiasi, setiap kelas dipilih juara 1, 2, dan 3 yang mendapatkan piala dan sertifikat dengan penilaian 35% Komposisi warna, 30% Kebersihan dan Kerapihan, & 35% Kreativita. Penghargaan ini bukan semata soal menang atau kalah, tetapi tentang menghargai proses, usaha, dan keberanian untuk berkompetisi secara jujur. Harapannya, nilai anti bullying dan sikap kompetitif yang sehat ini tidak berhenti di atas kertas gambar, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari murid MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah dalam berinteraksi dengan siapa pun.


Komentar
Posting Komentar