Pendampingan Pendidikan Al-Qur’an Berbasis Metode Tilawati di TPQ Baiturrohim Gubugklakah oleh Kelompok 41 KKM UIN Malang

    




  Setiap sore di Gubugklakah, TPQ Baiturrohim selalu ramai oleh suara anak-anak yang mengaji. TPQ ini dipimpin oleh Umi Musannadah, S.Pd.I, yang dengan sabar membersamai para santri dari Sabtu sampai Rabu (Kamis dan Jumat libur). Jumlah santri aktifnya kalau lengkap bisa mencapai sekitar 140 anak, dengan pembagian kelas yang beragam ada yang 10, 15, sampai 20 anak per kelas. Tingkatan belajarnya pun lengkap, mulai dari kelas Kitab, Juz Amma, sampai Al-Qur’an.

Kelompok 41 KKM UIN Malang ikut terlibat langsung dalam kegiatan belajar di TPQ ini. Pola pengajarannya sederhana tapi tertata. Awalnya guru membaca dan anak-anak mendengarkan, lalu guru membaca dan anak-anak menirukan, setelah itu anak-anak membaca sendiri. Di tahap akhir, setiap santri maju satu per satu untuk menunjukkan bacaannya sesuai halaman masing-masing. Menjelang pulang, sekitar sepuluh menit terakhir dipakai buat mengulang hafalan. Biasanya anak-anak diberi pertanyaan ringan seputar surat-surat pendek, doa harian, nama malaikat, rukun iman, dan rukun Islam. Siapa yang bisa jawab, boleh pulang duluan jadi belajar terasa lebih seru dan nggak tegang.

     Dalam keseharian, 16 mahasiswa KKM dibagi dua peran. Sebagian fokus mengajar di TPQ pada tingkat jilid, dan sebagian lagi mengajar di mushola lewat program One Day One Juz. Materi TPQ untuk anak-anak meliputi doa harian, bacaan sholat, dan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Tilawati. Untuk santri yang sudah masuk jilid 6, mulai dikenalkan materi tajwid. Sementara itu, santri yang sudah khatam Al-Qur’an melanjutkan ke madin, dengan kegiatan seperti ngaji kitab, sholat berjamaah, ngaji Al-Qur’an bersama, dan Tilawati yang fleksibel. Kelas Al-Qur’an menggunakan sistem baca bersama agar semua santri tetap aktif dan terpantau.

    Selain kegiatan inti mengaji, TPQ Baiturrohim juga punya ekstrakurikuler banjari. Kegiatan ini sering tampil mengisi acara TPQ, pengajian, sampai pelepasan KKM. Ke depan, TPQ dan masyarakat juga punya banyak rencana kegiatan keagamaan, seperti pengajian akbar, Maulid Nabi yang digelar di tiap RW (total ada 7 RW) dan di dua masjid, serta santunan akbar di bulan Muharram untuk anak yatim se-desa. Ada juga rencana kegiatan Rajab untuk penutupan majelis taklim, meskipun masih menunggu hasil musyawarah.

    Kegiatan ini berangkat dari keyakinan bahwa belajar Al-Qur’an sejak dini itu penting dan harus dilakukan dengan suasana yang nyaman. Seperti yang Allah firmankan, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1). Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Itulah yang coba diwujudkan oleh TPQ Baiturrohim bersama Kelompok 41 KKM UIN Malang: belajar dan mengajar dengan hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aksara Abadi di Pelataran Bromo: Menenun Identitas, Mengukir Sejarah Dunia

Merawat Desa, Menumbuhkan Makna

Kegiatan Tadabur Alam Kelompok 41 KKM UIN Malang sebagai Upaya Eksplorasi dan Promosi Potensi Wisata Alam Desa Gubugklakah